Sunday, June 12, 2011

Selamat Jalan, Bu

Saat itu kami sedang menjalani minggu Ujian Akhir Semester genap. Dimulai dari Senin, 6 Juni 2011.

Aku bukan ingin bercerita tentang ujian ini. Disaat kami sedang sibuk dengan belajar dan stress akibat materi yang semakin padat, berita duka menghampiri kami, kelas X-i. Hari Kamis kemarin, aku merasa ada firasat aneh di kemudian hari. Tiba-tiba saja mangkuk kecil yang ingin ku ambil pecah. Aku tak tahu itu bermaksud apa.

Keesokan hari, aku bangun dan langsung meraih handphone-ku. Ku amati beberapa orang telah menyapaku. Sms, bbm dan ramainya group di bbm sudah meramaikan pagiku pukul 06.10. Setelah aku membuka pesan di hp-ku itu, ku lihat itu pesan dari guru BK-ku.

"Innalillahi wa innaailaihi roojiuun...Telah berpulang rekan kita Ibu Esih Ningsih. Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT. Amin"

Serentak aku langsung 'melek' dan tak bisa mengatakan apa-apa. Speechless. Langsung pikiranku mendadak kacau. Ku buka beberapa bbm dari teman-temanku. Dan benar, mereka sedang membicarakan itu. Aku langsung tak percaya. Guru biologi sekaligus wali kelasku, sudah tiada. Rasanya janggal.

Kami pun membahas untuk pergi melayat. Dan ternyata pada hari itu sekolah kami pun diliburkan. Aku masih tak percaya beliau sudah pergi untuk selamanya. Sesampainya aku di sekolah, kami pun menunggu teman-teman kami yang lain untuk pergi bersamaan. Sekitar jam setengah 9 kami pun bergegas menuju rumah duka.

Di perjalanan, aku bersama beberapa teman bukan sedih. Anehnya, kami terus tertawa tanpa merasa berduka. Kami bukan melupakan ibu, namun kami hanya berusaha menghindarkan rasa sedih sepanjang perjalanan. Dan ya, aku merasa aneh. Haha.

Sesampainya kami di rumah duka, suasana canda tawa yang kami rasakan di perjalanan pun lenyap. Tampak bendera kuning melambaikan tangannya, sekedar memberitahu kami ada sesuatu yang terjadi. Perasaanku semakin tak karuhan.

Kami memasuki rumah kakak almarhumah ibu Esih. Beberapa sanak saudara, tetangga, terlihat disana. Ada duduk, berdoa, nangis tersedu-sedu. Ketika kami memasuki dalam rumah, aku lihat beberapa teman kami sudah sampai duluan. Mataku langsung tertuju kepada sebujur tubuh yang kaku, tertutupi kain kafan putih, kepala yang sudah tertutup kain dan tubuh terbaring nyenyak.

Itu guru kami?, pikirku dalam benak.

Langsung aku mencari tempat duduk, lesehan. Seorang temanku tak kuat menahan sedih, dia pun mengalirkan air mata sedihnya. Aku masih tak percaya. Aku sedih namun tidak menangis. Aku menatap raut wajah teman-teman di sekelilingku. Mereka menampangkan raut wajah tak percaya, sedih, takut. Lalu ku tatap beberapa orang di sekelilingku. Beberapa guru sudah sampai duluan, ada yang membantu untuk memakaikan sang jenazah kain kafan, ada yang sedang berdoa.

Tak lama, aku pun meneteskan air mata. Aku tak sanggup melihat guruku terpaku di depan. Ku lihat tangannya yang putih pucat, raut wajah yang tak berekspresi, mata tertutup. Dua orang anaknya menangis melihat sang ibunda sudah tak berkata.
Aku semakin tak tega melihat mereka. Guru yang biasanya mengajariku tentang invertebrata, virus, dan segala macam hal biologi, sudah takkan pernah mengajariku lagi. Yang biasanya memanggilku "Vira" padahal jelas namaku adalah Farah, tak akan ada yang memanggilku Vira lagi.

Melihat teman-temanku sudah mulai beranjak keluar dari rumah, aku pun mengikuti mereka. Mereka pun menangis, tak sanggup melihat Ibu mereka di sekolah sudah terbujur kaku. Aku pun menunggu di luar rumah bersama teman-temanku.

Kemudian, keluarlah bapak-bapak yang sedang mengangkat jenazah. Rupanya akan dimakamkan sebelum dzuhur. Waktu menunjukkan pukul 10.30, jenazah pun langsung dishalatkan. Kami berjalan menuju masjid terdekat. Sayangnya aku tak bisa shalat dikarenakan mukenah yang tertinggal di mobil.

Lalu kami mengiringi sang Ibu ke peristirahatannya yang terakhir. Ku lihat beberapa orang pun sudah seperti beliau, terkubur di dalam tanah. Tenang, tentram. Kami pun berkumpul bersama, melihat prosesi pemakaman. Aku tak bisa menangis saat itu, dan aku pun tak mau. Aku ingin beliau tenang disana.



Seorang uztad memimpin doa. Kami meng-amin-kan dan membaca Al-Fatihah untuknya. Sanak saudara membawa karangan bunga, menaburkan bunga-bunga di sekitar makamnya. Setelah giliran keluarga, kini giliran kelas X-i untuk mendoakan dan mendekati makam. Aku terus menatap nisan yang telah terukir nama guruku itu. Aku tatap terus menerus bunga-bunga yang sudah ditaburkan. "Baik-baik ya bu disana. Maafin kami selama ini.", kataku dalam hati.



Sampai pulang pun aku masih tak percaya. Aku merasa sedang dalam mimpi aneh. Memang beberapa bulan terakhir, Ibu Esih tak lagi mengajar kami dikarenakan sakit yang dideritanya. Beliau dikabarkan mengidap Tumor jinak. Tapi beberapa temanku mengatakan bahwa itu Kanker dan dokter pun sudah angkat tangan sehingga beliau tidak dirawat di rumah sakit lagi. Beberapa minggu sebelumnya memang aku dan beberapa temanku menjenguknya. Ketika itu Ibu masih dalam kondisi baik, walaupun memang sudah terbaring di tempat tidur. Dan Ibu masih sempat mengingatkan kami agar mengerjakan beberapa tugas. Tak kusangka itu adalah hari terakhir ku berjumpa dengan beliau.




Selamat jalan, Bu. Kami takkan melupakan Ibu. Kini kami pun tak punya wali kelas tapi kami mengharapkan Ibu tenang disana. Kami akan selalu mendoakan Ibu agar Ibu diterima di surga-Nya. Terima kasih bu atas jasa-jasa Ibu selama hampir setahun. Doakan kami semua ya, Bu :)

Kami tahu, Ibu akan selalu tersenyum dari sana.
-Xi

0 comment(s):

 
Template by suckmylolly.com - background image by elmer.0